Membayangkan masa depan yang akan saya hadapi dan temui adalah suatu hal yang suka bikin dag-dig-dug duerr!!!. Sewaktu saya masih kecil, dengan mudahnya saya mengucapkan wishes yang beraneka ragam. Pengen ini, pengen itu, mau jadi ini, mau jadi itu, nanti bakal begini, nanti bakal begitu, bla bla bla. Kalau saat ini, rasanya untuk sekedar mengucapkan harapan dan impian saja sudah merupakan hal yang sangat sulit daaaan penuh pertimbangan. Mungkin karena faktor umur a.k.a faktor tingkat ke-tua-an seseorang juga kali ya. Terkadang saya iri dengan anak-anak. Kok, kayanya mereka dengan polos dan wajah yang berseri-seri apabila ada yang bertanya "apa cita-cita mu?". Alasan klasik seklasik-klasiknya alasan adalah anak-anak itu kan masih innocent, belum punya beban, masih putih kaya kertas HVS yang baru dibeli dari Balubur (baca: nama daerah di Bandung yang terkenal dengan tempat jualan ATK)."Impian itu akan terasa sangat murah apabila kita selalu mencicil pundi-pundi harapan sejak pertama impian itu lahir. Sebaliknya, impian akan menjadi sangat mahal apabila kita tidak pernah memulai untuk sedikit demi sedikit mengumpulkan (mencicil) debu-debu harapan yang akan menjadi kenyataan."
Jika saya boleh jujur, ingin rasanya mengulang masa kecil. Akan tetapi bukan hanya untuk (kembali) merasakan bagaimana riang dan gembiranya saat-saat bermain dengan rasa damai tanpa tekanan sana-sini, melainkan untuk menambah beberapa poin kosong yang belum sempat bahkan yang seharusnya saya isi agar saat ini saya bisa menjadi sosok yang saya impikan ketika masih kecil. Atau mungkin saja saya seharusnya selalu mengingat dan mencacat semua impian masa kecil itu ya? Ah, ya sudah. Yang terpenting saat ini saya masih bisa belum terlambat untuk mengejar dan meraih impian saya.
Impian itu akan terasa sangat murah apabila kita selalu mencicil pundi-pundi harapan sejak pertama impian itu lahir. Sebaliknya, impian akan menjadi sangat mahal apabila kita tidak pernah memulai untuk sedikit demi sedikit mengumpulkan (mencicil) debu-debu harapan yang akan menjadi kenyataan.
Seperti dalam film "Bed Time Stories" yang diperankan oleh Adam Sandler (FYI: saya selalu terhipnotis jika melihat film yang diperankan oleh paman saya yang satu ini karena selalu menghibur dan dapat menjiwai setiap peran yang dibawakannya, hehe!). Bila hanya mendengar judulnya saja, mungkin tidak sedikit dari kita yang mengira bahwa film ber-genre komedi ini hanya mengisahkan seseorang yang membacakan dongeng sebelum tidur untuk anak-anak. Ternyata inti dari film ini adalah bahwa impian seorang anak itu memiliki kekuatan spiritual yang cukup kuat untuk dapat dilaksanakan/ terjadi. Hingga pada akhirnya seorang pegawai clining service sebuah hotel terkenal yang ingin menjadi pemilik resmi dari hotel yang baru akan dibangun memanfaatkan keadaan tersebut dengan selalu mendongengi sepasang kakak-beradik yang masih sangat kecil yang kemudian meminta mereka meneruskan akhir dari setiap dongeng yang ia ceritakan. Seorang dewasa tersebut selalu menekankan bahwa happy ending itu tidak pernah ada kepada anak-anak itu. Dan pada akhirnya ia menyadari bahwa sesuatu itu tidak tergantung dari perbuatan orang lain, melainkan dari perbuatannya sendiri.
Saya selalu berharap untuk masa depan yang akan happy ending. Karena akhir bahagia itu benar adanya apabila kita memang menginginkan segala sesuatu itu berakhir dengan bahagia. Tuhan Yang Maha Kuasa tentu telah menentukan takdir seseorang, namun seseorang pun tentu bisa mengubah nasib mereka dengan bergantung kepada usaha dan doa yang telah mereka lakukan. Selamat mengejar cita-cita dan harapan....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar