Sabtu, 23 Oktober 2010

Mama called 'Mama'

Suatu malam, Mamaku tiba-tiba bercerita. Aku pun kemudian duduk manis di samping beliau, siap mendengar cerita. Mama bilang, "Teh, tahu nggak apa yang bikin Mama merasa sempurna menjadi seorang ibu?". Saat itu aku hanya menggelengkan kepala karena memang tidak tahu jawabannya. Kemudian, Mama melanjutkan, hendak menjawab pertanyaan yang diajukannya padaku. "Mama merasa sempurna saat pertama kali teteh bisa manggil 'mama' dengan suara khas bayi yang baru pertama kali bisa bicara. Waktu itu, Mama sampai netesin air mata, karena untuk pertama kalinya mama mendengar mama dipanggil 'mama' sama anak pertama mama, yaitu kamu. Hahh...itulah awal kesempurnaan mama sebagai seorang ibu".

Cerita mama pun berlanjut...

Sabtu, 16 Oktober 2010

HAPPY ENDING

"Impian itu akan terasa sangat murah apabila kita selalu mencicil pundi-pundi harapan sejak pertama impian itu lahir. Sebaliknya, impian akan menjadi sangat mahal apabila kita tidak pernah memulai untuk sedikit demi sedikit mengumpulkan (mencicil) debu-debu harapan yang akan menjadi kenyataan."

Membayangkan masa depan yang akan saya hadapi dan temui adalah suatu hal yang suka bikin dag-dig-dug duerr!!!. Sewaktu saya masih kecil, dengan mudahnya saya mengucapkan wishes yang beraneka ragam. Pengen ini, pengen itu, mau jadi ini, mau jadi itu, nanti bakal begini, nanti bakal begitu, bla bla bla. Kalau saat ini, rasanya untuk sekedar mengucapkan harapan dan impian saja sudah merupakan hal yang sangat sulit daaaan penuh pertimbangan. Mungkin karena faktor umur a.k.a faktor tingkat ke-tua-an seseorang juga kali ya. Terkadang saya iri dengan anak-anak. Kok, kayanya mereka dengan polos dan wajah yang berseri-seri apabila ada yang bertanya "apa cita-cita mu?". Alasan klasik seklasik-klasiknya alasan adalah anak-anak itu kan masih innocent, belum punya beban, masih putih kaya kertas HVS yang baru dibeli dari Balubur (baca: nama daerah di Bandung yang terkenal dengan tempat jualan ATK).

Jika saya boleh jujur, ingin rasanya mengulang masa kecil. Akan tetapi bukan hanya untuk (kembali) merasakan bagaimana riang dan gembiranya saat-saat bermain dengan rasa damai tanpa tekanan sana-sini, melainkan untuk menambah beberapa poin kosong yang belum sempat bahkan yang seharusnya saya isi agar saat ini saya bisa menjadi sosok yang saya impikan ketika masih kecil. Atau mungkin saja saya seharusnya selalu mengingat dan mencacat semua impian masa kecil itu ya? Ah, ya sudah. Yang terpenting saat ini saya masih bisa belum terlambat untuk mengejar dan meraih impian saya. 

Impian itu akan terasa sangat murah apabila kita selalu mencicil pundi-pundi harapan sejak pertama impian itu lahir. Sebaliknya, impian akan menjadi sangat mahal apabila kita tidak pernah memulai untuk sedikit demi sedikit mengumpulkan (mencicil) debu-debu harapan yang akan menjadi kenyataan.

Seperti dalam film "Bed Time Stories" yang diperankan oleh Adam Sandler (FYI: saya selalu terhipnotis jika melihat film yang diperankan oleh paman saya yang satu ini karena selalu menghibur dan dapat menjiwai setiap peran yang dibawakannya, hehe!). Bila hanya mendengar judulnya saja, mungkin tidak sedikit dari kita yang mengira bahwa film ber-genre komedi ini hanya mengisahkan seseorang yang membacakan dongeng sebelum tidur untuk anak-anak. Ternyata inti dari film ini adalah bahwa impian seorang anak itu memiliki kekuatan spiritual yang cukup kuat untuk dapat dilaksanakan/ terjadi. Hingga pada akhirnya seorang pegawai clining service sebuah hotel terkenal yang ingin menjadi pemilik resmi dari hotel yang baru akan dibangun memanfaatkan keadaan tersebut dengan selalu mendongengi sepasang kakak-beradik yang masih sangat kecil yang kemudian meminta mereka meneruskan akhir dari setiap dongeng yang ia ceritakan. Seorang dewasa tersebut selalu menekankan bahwa happy ending itu tidak pernah ada kepada anak-anak itu. Dan pada akhirnya ia menyadari bahwa sesuatu itu tidak tergantung dari perbuatan orang lain, melainkan dari perbuatannya sendiri.

Saya selalu berharap untuk masa depan yang akan happy ending. Karena akhir bahagia itu benar adanya apabila kita memang menginginkan segala sesuatu itu berakhir dengan bahagia. Tuhan Yang Maha Kuasa tentu telah menentukan takdir seseorang, namun seseorang pun tentu bisa mengubah nasib mereka dengan bergantung kepada usaha dan doa yang telah mereka lakukan. Selamat mengejar cita-cita dan harapan....

Sabtu, 09 Oktober 2010

Mandiri...

Untuk menjadi seseorang yang mandiri itu dibutuhkan kekuatan ekstra. Saya selalu ingin menjadi seorang yang mandiri, anak yang mandiri, perempuan yang mandiri, mahasiswa yang mandiri, juga kekasih yang bisa mandiri untuk pasangan saya. Mandiri bukan berarti saya bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, melainkan sebisa mungkin untuk tidak ketergantungan dengan orang lain a.k.a menjadi seorang yang "parasit". Nempel sana, nempel sini, yang penting gue untung dan bisa bahagia selama selalu merasa ketergantungan sama orang lain. Satu kata aja dari saya, "iiiwh!".

Aduh, ga mau deh kalau sampai jadi parasit. Tapi kalo konteksnya hubungan "simbiosis mutualisme" dengan kata umumnya "saling menguntungkan" sih mungkin gak apa-apa ya. Toh, kita sama-sama saling membantu kan berarti. Sekarang kalo ceritanya ada orang yang selalu meminta belas kasihan orang lain dan tidak mau berusaha untuk mendapatkan yang dia inginkan itu kan sudah bisa disebut parasit dan sangat ketergantungan dengan orang lain. Kasarnya, kalo ga ada orang lain, sama dengan dia siap-siap untuk kehilangan nyawa karena dia ga bisa hidup tanpa orang lain itu.
Lalu, apa salahnya untuk percaya kepada diri sendiri?

life itu hidup

Ternyata hidup itu emang ga selamanya berjalan seperti yang kita harapkan. Dari pertama kita dilahirkan ke muka bumi, tepatnya saat pertama kali kita keluar dari "tempat tidur" di dalem perut ibu kita, itulah awal mula perjalanan petualangan yang sangat tidak terduga. Kenapa tidak terduga? Toh, kita lahir aja udah bisa diduga kapan dan apa jenis kelaminnya, ya hanya saja kita ga tau bakal dilahirkan dimana. Bisa jadi kita dilahirkan di rumah, di mobil, di rumah sakit, di bidan, di kamar mandi, bahkan mungkin saja di lift dalam mall karena ibu kita lagi belanja dan berburu barang diskonan.


H-i-d-u-p. Seperti lilin yang baru dinyalakan oleh sebatang korek api, hidup itu penuh guncangan dan tiupan cobaan. Hidupnya seorang manusia itu mungkin bisa disamakan seperti saat kita lagi nyetir (mobil/ motor/ sepeda/ bis/ becak/ andong sekalipun), dimana kita itu telah menentukan arah dan tujuan kita mau kemana. Tetapi ketika dalam perjalanan, kita biasanya menemukan hal-hal yang tidak terduga. Entah itu hal yang lucu, nyenengin (kaya misalnya papasan sama Brad Pitt di lampu merah), ngeselin (musti rela berjam2 kejebak macet gara2 ada lomba maraton kura2), dan lain sebagainya atau bahkan lancar-lancar aja selama dalam perjalanan itu. Tapi yang jelas kita udah tau kita itu hendak pergi kemana (kecuali yang lagi ge-je dan niatnya cuma buat ngabisin persediaan minyak bumi aja ya), harus nyampe di tempat tujuan pukul berapa, lewat jalan mana, dan mungkin ada yang sampai niat beli peta DORA karena buta arah. Apabila kita memang benar-benar mempersiapkan segala hal untuk menempuh perjalanan itu, kemungkinan untuk mencapai apa yang kita harapkan itu bisa besar. Lain halnya jika sesuatu hal buruk menimpa kita yang sedang dalam perjalanan.


Menurut saya, begitulah hidup.


Mengalami adanya pertumbuhan, perkembangan, kemajuan, pergeseran, kesakitan&kesulitan, kebahagiaan, keharu-biruan, dan hingga tahap kematian.  


Life is incredibly fun yet horriby hard.


Tentu hidup itu adalah sebuah siklus. Siklus yang akan berbeda-beda untuk setiap individu yang ada. Tidak ada seorang pun yang bisa membaca apa yang akan terjadi di depan dan di hari-hari yang akan datang. Yang kita tahu hanya sebatas saat ini (present) dan saat-saat yang telah berlalu (past). Oleh karena itu, waktu yang akan datang akan saat ditentukan oleh saat ini. Bagaimana kita mau melangkah lebih jauh dan seberapa besar kesiapan kita untuk menciptakan langkah yang menuju kepada cahaya harapan.


to be continued....